ASIA TENGGARA, TANAH ASAL PERADABAN KUNO DUNIA.
Hampir semua tulisan tentang sejarah peradaban menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan 'pinggiran'. Kawasan yang kebudayaannya dapat subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak-riak difusi budaya dari pusat-pusat peradaban lain, baik yang berpusat di Mesir, Cina, maupun India.
Stephen Oppenheimer berpendapat lain. Dokter ahli genetik yang belajar banyak tentang sejarah peradaban ini malah melihat kawasan Asia Tenggara sebagai tempat cikal bakal peradaban kuno berasal. Munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara. Oppenheimer. Didukung oleh data yang diramu dari hasil kajian arkeologi, etnografi, linguistik, geologi, maupun genetika.
Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak Jaman Es (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu, muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang. Kepulauan Indonesia bagian barat masih Bergabung dengan benua Asia menjadi dataran luas yang dikenal sebagai Paparan Sunda. Namun ketika bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan mengakibatkan banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru dunia.
Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir besar yang terjadi pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut hingga 5-10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Yang paling parah dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan. Paparan Sunda malah menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera. Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup padat dihuni manusia prasejarah yang berpenghidupan sebagai petani dan nelayan. Bagi Oppenheimer, kisah 'Banjir Nuh' atau 'Benua Atlantis yang hilang' tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena alam dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti ini juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional.
Ketika banjir melanda, terjadi diaspora para penghuni kawasan ini. Mereka menyebar ke Barat hingga India dan Mesopotamia, ke Timur lalu menghuni Kepulauan Pasifik, dan ke Utara sampai ke Cina dan Jepang bahkan terus menyeberang ke Amerika lewat Selat Bering. Menurut Oppenheimer, diaspora ini cocok dengan rekonstruksi linguistik terbaru versi Johanna Nichols yang menyatakan bahwa Asia Tenggara sebagai pusat persebaran bahasa-bahasa dunia setelah akhir zaman Es. Ini tentu saja amat bertentangan dengan teori yang umum dianut, yang meletakkan tempat asal bahasa-bahasa Asia Timur (Tibeto-Burma, Tai-Kadai, Austroasiatik dan Austronesia) di timur Himalaya, tempat sungai-sungai besar di daratan Asia berhulu. Namun, Oppenheimer juga merujuk sintesis dari empat pakar arkeologi yang meyakini bahwa kawasan ex- Paparan Sunda adalah pusat diaspora manusia pada akhir zaman Es.
Petunjuk genetika pun membuktikan bahwa penduduk Asia Tenggara sudah menghuni kawasan ini paling tidak sejak akhir Kala Pleistosen, dan tidak banyak mendapat aliran gen baru dari daratan Asia. Oppenheimer yakin, 'Orang Asli' yang kini bermukim di Semenanjung Malaya adalah sisa penduduk asli Paparan Sunda yang 'tetap tinggal di rumah' ketika keluarga lainnya migrasi. Artinya, migrasi terjadi dari kawasan Kepulauan Asia Tenggara ke Daratan Asia, dan bukan sebaliknya. Jadi, migrasi penutur bahasa Austronesia pun bukan dari Cina Selatan-Taiwan ke Kepulauan Filipina-Indonesia lalu ke Pasifik dan Madagaskar seperti yang disintesiskan oleh ahli bahasa Robert Blust maupun ahli arkeologi Peter Bellwood. Justru dari Kepulauan Indonesia-lah, para penutur Austronesia berasal.
Bagi Oppenheimer, orang Sumeria yang menjadi peletak dasar peradaban di Mesopotamia adalah orang Asia Tenggara. Kesamaan benda-benda Neolitik yang muncul di Asia Tenggara dan Mesopotamia sekitar 7.500 tahun lalu menjadi salah satu bukti. Ciri fisik orang Sumeria yang bermuka lebar (brachycepalis) dan wajah tipikal 'orientalis' patung-patung wanita Sumeria bisa jadi bukti lainnya. Malahan, tokoh legenda Uthnapishtim, yang dalam wiracarita Gilgamesh dan daftar raja-raja Sumeria disebut sebagai satu-satunya orang yang selamat dari banjir besar, sehingga dianggap prototipe 'Nabi Nuh', tidak lain adalah personifikasi migran dari Asia Tenggara. Dalam legenda Babilonia, kedatangan migran Asia Tenggara direkam dalam kisah tujuh orang bijak yang datang dari laut (Timur) membawa berbagai keterampilan dan pengetahuan baru. Kisah seperti ini juga terdapat di Hindukush (pusat peradaban Indus kuno) dan dimuat dalam Buku Kematian Mesir kuno. Sementara itu, dalam berbagai varian, legenda ini masih tersebar luas di Kepulauan Nusantara hingga Pasifik.
Oppenheimer tidak berhenti sampai di situ. Ia mengungkapkan bahwa kisah bertema penciptaan Adam-Hawa hingga sengketa Kaen-Habel ternyata tersebar luas di Asia dan Pasifik. Di New Zealand, orang Maori menyebut wanita pertama sebagai 'Eevee'. Dalam berbagai mitos di kawasan ini, manusia pertama dikisahkan dibuat dari lempung merah. Kisah sengketa dua saudara kandung juga populer di Papua Nugini dengan tokoh bernama Kullabop dan Manup. Karena itu, Oppenheimer yakin kisah Kejadian Dunia (Genesis) aslinya berasal dari Asia Tenggara, sehingga ia menganggap Asia Tenggara sebagai 'Taman Firdaus' (Eden in the East).
Teori hiper-difusionisme pun disusun dari paralelisme data arkeologi, organisasi sosial, religi, dan ciri etnografi lain yang terdapat di berbagai penjuru dunia (Trigger, 1989). Kalau dalam cara meyakinkan pembacanya, karya Oppenheimer ini mirip dengan karya-karya Eric von Daniken, yang menganggap peradaban manusia di bumi ini sebagai hasil transfer iptek dari mahluk angkasa luar !
Seperti von Daniken, Oppenheimer juga menggunakan penggalan-penggalan data arkeologi yang diramu dengan beragam hasil kajian ilmiah bidang lainnya. Gaya penyajiannya yang ilmiah populer membuat buku ini enak dibaca. Karya seperti ini dikenal sebagai pseudo-archaeology.
Membaca buku Oppenheimer memang mengasyikkan, khususnya bagi mereka yang berwawasan 'posmo'. Nuansa dekonstruksi yang kuat dalam buku ini bisa membuat mereka sulit berhenti membaca. Hampir di tiap bagian ada kontroversi, yang kemudian dipecahkan dengan cerdik.. Apalagi, data yang dipakai amat mutakhir, termasuk data paling baru yang dikumpulkan si penulis sendiri saat ia praktek sebagai dokter di desa-desa terpencil Asia Tenggara dan Papua Nugini.
Eden in the East, the Drowned Continent of
Southeast Asia
Stephen Oppenheimer
Hardback : Weidenfeld & Nicholson Ltd,
London, 1998
Paperback : Phoenix Books, 1999
(xvi, 560 hal. Illustrasi.)
"ASIA TENGGARA, TANAH ASAL PERDABAN KUNO DUNIA?"
Stephen Oppenheimer
Source:
Daud Tanudirja
Master of Arts, Doktor of Phylosophy, Staf Pengajar Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Views: 938
sumber:
http://www.lautanindonesia.com/blog/blogblog/blog/8818/asia-tenggara-tanah-asal-peradaban-kuno-dunia
Tampilkan postingan dengan label Peradapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peradapan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 06 Januari 2010
Peradapan Mesir, Inca, Teotihuacan dll
Pelajaran Agung dari
Peradaban Kuno
Oleh Grup Berita Amerika Serikat (Asal dalam bahasa Inggris)
Banyak orang mungkin berpikir bahwa peradaban kuno itu sangat primitif. Akan tetapi, dari arsitektur bangunan seperti piramida di Mesir, reruntuhan di Amerika Tengah dan Selatan, atau Stonehenge di Inggris Raya, kita mengerti bahwa sungguh tidak mudah membuat bangunan seperti itu; bahkan dengan pengetahuan konstruksi dan teknologi masa kini sekalipun. Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana balok-balok besar dari bangunan-bangunan tersebut dipotong, diangkut, dan disusun begitu rapinya? Ada dugaan bahwa batu-batu tersebut dipotong dengan suara ultraelektronik dan diangkut ke atas tanah dengan teknik antigravitasi.
Guru suatu kali pernah berkata, “Kita pernah melihat, kita pernah membaca, dan kita mempunyai bukti tentang berbagai peradaban yang telah terkubur di bawah tanah karena kecenderungan mereka untuk mengikuti jalan yang negatif. Sejarah telah membuktikan semuanya itu. Dan sekarang kita bahkan mempunyai banyak penemuan kota-kota kuno tersebut yang ternyata jauh lebih maju dari peradaban kita. Mereka telah lenyap; mereka mengalami kemajuan sampai ke tingkat peradaban yang sangat tinggi, dan juga sampai ke tingkat perkembangan elektronik dan mekanik yang sangat tinggi. Akan tetapi, kemudian mereka tidak taat kepada Tuhan; mereka tidak mengikuti prinsip kehidupan yang benar sehingga mereka jatuh. Penemuan-penemuan tersebut seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi generasi kita dan juga bagi banyak generasi lain yang akan datang.” (Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Hsihu, Formosa, 8 Mei 1992, Majalah Berita #27)
Guru juga pernah mengungkapkan beberapa wawasan mengenai bagaimana peradaban kuno itu terjadi: “Dahulu kala, pernah ada manusia dari alam yang lebih tinggi yang datang ke Bumi untuk mengajar kita. Sebagian datang dari dunia tingkat menengah, sebagian datang dari dunia tingkat yang lebih tinggi, sebagian dari dunia tingkat tertinggi. Makhluk dari dunia menengah mengajarkan kita cara menciptakan mesin-mesin modern, mengembangkan kemampuan supernatural, agar hidup kita lebih nyaman, lebih kaya, dan lebih beradab. Bumi kita pernah mengalami masa jaya, seperti pada Zaman Atlantis, saat itu ada guru tingkat menengah yang datang dari dunia tingkat menengah untuk mengajar kita. Pada zaman itu, bumi kita sangat beradab. Akhir-akhir ini kita sering mendengar bahwa para arkeolog berhasil menemukan bukti peninggalan peradaban masa itu.” (Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Tokyo, Jepang, 11 Maret 1992, Asal dalam bahasa China)
Berikut ini adalah beberapa contoh peradaban agung sebelumnya yang telah ditemukan, dan kita dapat memetik pelajaran dari sisa-sisa peninggalan bisu tersebut.
Piramida Besar Giza
Piramida di Mesir
Berdiri di Mesir, bangunan yang mengesankan ini adalah bangunan tertua dan terakhir dari Tujuh Keajaiban Dunia. Piramida ini dibangun dari balok batu kapur, basal atau granit yang dipotong dan dihaluskan sebelum disusun pada tempatnya. Balok tersebut beratnya rata-rata dua sampai 15 tonnes (16.5 ton). Diperkirakan 2,4 juta balok batu digunakan pada bangunan ini.
Pengerjaan piramida dilakukan dengan sangat teliti. Empat sisi dasar yang panjangnya 750 kaki hanya mempunyai kesalahan rata-rata 58 mm (kurang lebih dua inci) dalam panjang dan deviasi hanya satu menit dari sudut segi empat sempurna. Sisi-sisi segi empat dasarnya disejajarkan dengan cermat menurut urutan empat arah angin (dalam busur 3 menit) dan orientasinya tidak pada utara magnet, tetapi utara yang sebenarnya.
Pada waktu dibangun, permukaan Piramida Besar diselubungi oleh batu-batuan putih – batu kapur putih yang dipoles dengan sangat halus dengan bagian muka yang miring, tetapi rata pada bagian atasnya. Batu-batu dari Piramida Besar dipotong demikian telitinya sehingga tingkat ketidaktepatan pada seluruh permukaan hanya 1/50 inci. Mereka disusun dengan sempurna bahkan sampai hari ini pun sebuah ujung pisau tidak dapat disisipkan di antara kedua sambungan.
Pada sisi yang menghadap utara adalah pintu masuk piramida. Ada sejumlah gang, serambi, dan terowongan rahasia yang menuju ke ruang Raja, atau ruang yang dimaksudkan untuk fungsi-fungsi lainnya. Ruang Raja terletak di pusat piramida, dan hanya bisa dicapai melalui Serambi Besar dan sebuah gang yang menanjak. Yang paling mengesankan adalah batu berujung lancip di atas pintu keluar-masuk ruang Raja yang panjangnya lebih dari 3 m (10 kaki), tingginya 2,4 m (8 kaki) dan tebalnya 1,3 m (4 kaki). Semua batu-batuan bagian dalam dipasang dengan rapinya sehingga sebuah kartu pun tidak bisa menyisip di antaranya.
Kekaisaran Inca
Sebuah Pemandangan dari Machu Picchu, “Kota Hilang” Orang Inca
Peradaban ini terdapat di daerah Amerika Selatan yang sekarang dikenal sebagai Peru, dan merupakan kekaisaran terbesar pada masa Amerika Pra-Kolumbia dan terbesar di dunia pada saat keruntuhannya. Orang Inca mungkin paling terkenal untuk pekerjaan konstruksi dan arsitekturnya. Mereka membangun sebuah jalan yang lebar yang dibangun dengan baik dan terus dirawat. Panjang jalan itu sedikitnya 23.000 km (lebih dari 14.000 mil). Jaringan jalan ini memudahkan komunikasi dan pergerakan masyarakat serta barang. Untuk melintasi jurang curam yang jumlahnya banyak di Pegunungan Andes, orang Inca membangun jembatan gantung yang mengesankan. Mereka membangun teras-teras di lereng gunung untuk meningkatkan produksi pangan.
Teotihuacan
Piramida Matahari di Teotihuacan, Meksiko
Kota kuno Teotihuacan terletak dekat Meksiko City di Dataran Tinggi Meksiko. Bangunan ini sangat mengesankan, baik dari ukuran Piramida Matahari (ketiga terbesar di dunia) dan bangunan “saudaranya” Piramida Bulan; maupun kualitas kedamaian dari orang asli yang tinggal di daerah itu. Teotihuacan sangat unik dalam hal lukisan dindingnya. Lukisan yang ditemukan di sana tidak memiliki tema kekerasan seperti yang ada pada bangunan bersejarah lainnya; mereka menggambarkan sebuah masyarakat yang tampaknya lebih tertarik pada perbintangan dan simbol-simbol kerohanian pada waktu itu.
Piramida Bulan
Kota itu tampaknya digunakan sebagai pusat yang tumbuh dengan baik berabad-abad. Akan tetapi, ia tidak pernah memperoleh kembali kejayaan seperti dahulu kala setelah keruntuhannya yang tiba-tiba. Tak seorang pun tahu siapa yang membangun Teotihuacan. Nama-nama yang digunakan hari ini adalah nama orang Aztek yang telah menemukan bangunan tersebut setelah ditinggalkan. Orang Aztek membayangkan bahwa tempat itu dibangun oleh raksasa-raksasa.
Pulau Paskah
Beberapa patung batu besar, atau moai, di Pulau Paskah
Di Samudra Pasifik Selatan, 3.600 km (2.237 mil) dari benua Amerika Selatan terdapat Pulau Paskah. Di atas “titik kecil” di tengah samudra ini terdapat 887 buah patung batu besar atau moai yang dipahat dari abu gunung berapi yang mengeras dan kasar yang ada di sekitar pulau ini. Moai terbesar tingginya lebih dari 70 kaki dan beratnya lebih dari 150 ton (300.000 pon). Tempat galian itu tampaknya pernah ditinggalkan secara tiba-tiba, dengan patung-patung setengah dipahat berceceran di atas batu karang. Sayang sekali tidak ada catatan tertulis yang bisa menceritakan tentang tanah terpencil itu. Akan tetapi, patung-patung raksasa tersebut memberikan inspirasi akan gambaran kerohanian mereka yang asli.
Stonehenge
Stonehenge di Inggris Selatan
Stonehenge terletak di atas tanah datar hijau terbuka di Dataran Salisbury, dua mil sebelah barat Kota Amesbury, Wilshire, di Inggris Selatan. Ia merupakan serangkaian lingkaran konsentris dan bentuk sepatu kuda dari batu-batu kuno yang sangat besar. Bentuk Stonehenge tidak bisa dijelaskan oleh dunia arsitektur saja. Dengan berat sampai dengan 45,4 tonne (50 ton), ia dianggap sebagai karya konstruksi yang besar dan mengesankan pada zamannya.
Sekumpulan tiang batu yang di luar, lengkap dengan sambungan batu bubungan yang disebut lintel, membentuk lingkaran utuh. Bagaimana orang yang membangun itu tahu cara membentuk lintel agar mereka bisa tetap rata dan tetap membentuk lingkaran dianggap sebagai arsitektur yang maju pada masa itu. Walaupun tidak jelas siapa yang membangun Stonehenge atau untuk tujuan apa, pernah ada dugaan bahwa itu merupakan kuil untuk penyembahan, tempat untuk mengamati perbintangan, pemakaman suci, pekerjaan makhluk luar angkasa, tempat pendaratan makhluk luar angkasa, sebuah alat hitung atau jam atau sebuah tempat pengamatan perbintangan di Zaman Batu, dsb.
Dibandingkan dengan beberapa pencapaian peradaban kuno, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini tampaknya masih kalah jauh. Saat ini, bumi dapat hancur karena bencana buatan manusia dan bencana alam yang mungkin disebabkan oleh perang nuklir, penyalahgunaan teknologi, polusi, dsb jika kita tetap membangun atmosfer negatif di planet kita, menentang alam, mencampuri sistem ekologi, dan menciptakan rintangan-rintangan di dalam masyarakat.
Jumlah orang di Bumi ini yang telah mengetahui manfaat kerohanian sangatlah besar. Sejalan dengan kedatangan Zaman Keemasan, kita mempunyai sebuah kesempatan untuk mengetahui masa depan seperti yang Guru gambarkan ketika Beliau mengatakan, “Jika seluruh manusia di dunia ini mau berlatih rohani, maka bumi kita akan menjadi sebuah planet yang berperadaban dan berperingkat tinggi, sama seperti planet lainnya. Pada saat itu, kita akan dapat menciptakan segalanya, kita akan puas dalam segi materi. Itu semua karena sisi kerohanian serta kebijaksanaan kita telah meningkat, dan kita dapat berbuat segala hal… Di dunia seperti itu, persentase penggunaan kebijaksanaan jauh lebih tinggi daripada dunia kita. Itulah perbedaan antara kita dengan mereka. Manusia terpandai di dunia ini baru menggunakan empat persen dari kepandaiannya saja. Dapatkah Anda bayangkan? Hanya empat persen saja! Oleh sebab itu, bumi ini masih jauh tertinggal." (Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Tokyo, Jepang, 11 Maret 1992, Asal dalam bahasa China)
Banyak orang meramalkan bahwa Bumi kita akan maju dengan sangat pesat di abad ini, dan banyak perubahan hebat akan terjadi dalam beberapa tahun ini. Sesungguhnya, banyak teknologi luar biasa yang siap dialihkan ke bumi asalkan kita mempunyai kunci kasih dan kebijaksanaan!
sumber:
http://kontaktuhan.org/news/news174/os_64.htm
Peradaban Kuno
Oleh Grup Berita Amerika Serikat (Asal dalam bahasa Inggris)
Banyak orang mungkin berpikir bahwa peradaban kuno itu sangat primitif. Akan tetapi, dari arsitektur bangunan seperti piramida di Mesir, reruntuhan di Amerika Tengah dan Selatan, atau Stonehenge di Inggris Raya, kita mengerti bahwa sungguh tidak mudah membuat bangunan seperti itu; bahkan dengan pengetahuan konstruksi dan teknologi masa kini sekalipun. Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana balok-balok besar dari bangunan-bangunan tersebut dipotong, diangkut, dan disusun begitu rapinya? Ada dugaan bahwa batu-batu tersebut dipotong dengan suara ultraelektronik dan diangkut ke atas tanah dengan teknik antigravitasi.
Guru suatu kali pernah berkata, “Kita pernah melihat, kita pernah membaca, dan kita mempunyai bukti tentang berbagai peradaban yang telah terkubur di bawah tanah karena kecenderungan mereka untuk mengikuti jalan yang negatif. Sejarah telah membuktikan semuanya itu. Dan sekarang kita bahkan mempunyai banyak penemuan kota-kota kuno tersebut yang ternyata jauh lebih maju dari peradaban kita. Mereka telah lenyap; mereka mengalami kemajuan sampai ke tingkat peradaban yang sangat tinggi, dan juga sampai ke tingkat perkembangan elektronik dan mekanik yang sangat tinggi. Akan tetapi, kemudian mereka tidak taat kepada Tuhan; mereka tidak mengikuti prinsip kehidupan yang benar sehingga mereka jatuh. Penemuan-penemuan tersebut seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi generasi kita dan juga bagi banyak generasi lain yang akan datang.” (Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Hsihu, Formosa, 8 Mei 1992, Majalah Berita #27)
Guru juga pernah mengungkapkan beberapa wawasan mengenai bagaimana peradaban kuno itu terjadi: “Dahulu kala, pernah ada manusia dari alam yang lebih tinggi yang datang ke Bumi untuk mengajar kita. Sebagian datang dari dunia tingkat menengah, sebagian datang dari dunia tingkat yang lebih tinggi, sebagian dari dunia tingkat tertinggi. Makhluk dari dunia menengah mengajarkan kita cara menciptakan mesin-mesin modern, mengembangkan kemampuan supernatural, agar hidup kita lebih nyaman, lebih kaya, dan lebih beradab. Bumi kita pernah mengalami masa jaya, seperti pada Zaman Atlantis, saat itu ada guru tingkat menengah yang datang dari dunia tingkat menengah untuk mengajar kita. Pada zaman itu, bumi kita sangat beradab. Akhir-akhir ini kita sering mendengar bahwa para arkeolog berhasil menemukan bukti peninggalan peradaban masa itu.” (Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Tokyo, Jepang, 11 Maret 1992, Asal dalam bahasa China)
Berikut ini adalah beberapa contoh peradaban agung sebelumnya yang telah ditemukan, dan kita dapat memetik pelajaran dari sisa-sisa peninggalan bisu tersebut.
Piramida Besar Giza
Piramida di Mesir
Berdiri di Mesir, bangunan yang mengesankan ini adalah bangunan tertua dan terakhir dari Tujuh Keajaiban Dunia. Piramida ini dibangun dari balok batu kapur, basal atau granit yang dipotong dan dihaluskan sebelum disusun pada tempatnya. Balok tersebut beratnya rata-rata dua sampai 15 tonnes (16.5 ton). Diperkirakan 2,4 juta balok batu digunakan pada bangunan ini.
Pengerjaan piramida dilakukan dengan sangat teliti. Empat sisi dasar yang panjangnya 750 kaki hanya mempunyai kesalahan rata-rata 58 mm (kurang lebih dua inci) dalam panjang dan deviasi hanya satu menit dari sudut segi empat sempurna. Sisi-sisi segi empat dasarnya disejajarkan dengan cermat menurut urutan empat arah angin (dalam busur 3 menit) dan orientasinya tidak pada utara magnet, tetapi utara yang sebenarnya.
Pada waktu dibangun, permukaan Piramida Besar diselubungi oleh batu-batuan putih – batu kapur putih yang dipoles dengan sangat halus dengan bagian muka yang miring, tetapi rata pada bagian atasnya. Batu-batu dari Piramida Besar dipotong demikian telitinya sehingga tingkat ketidaktepatan pada seluruh permukaan hanya 1/50 inci. Mereka disusun dengan sempurna bahkan sampai hari ini pun sebuah ujung pisau tidak dapat disisipkan di antara kedua sambungan.
Pada sisi yang menghadap utara adalah pintu masuk piramida. Ada sejumlah gang, serambi, dan terowongan rahasia yang menuju ke ruang Raja, atau ruang yang dimaksudkan untuk fungsi-fungsi lainnya. Ruang Raja terletak di pusat piramida, dan hanya bisa dicapai melalui Serambi Besar dan sebuah gang yang menanjak. Yang paling mengesankan adalah batu berujung lancip di atas pintu keluar-masuk ruang Raja yang panjangnya lebih dari 3 m (10 kaki), tingginya 2,4 m (8 kaki) dan tebalnya 1,3 m (4 kaki). Semua batu-batuan bagian dalam dipasang dengan rapinya sehingga sebuah kartu pun tidak bisa menyisip di antaranya.
Kekaisaran Inca
Sebuah Pemandangan dari Machu Picchu, “Kota Hilang” Orang Inca
Peradaban ini terdapat di daerah Amerika Selatan yang sekarang dikenal sebagai Peru, dan merupakan kekaisaran terbesar pada masa Amerika Pra-Kolumbia dan terbesar di dunia pada saat keruntuhannya. Orang Inca mungkin paling terkenal untuk pekerjaan konstruksi dan arsitekturnya. Mereka membangun sebuah jalan yang lebar yang dibangun dengan baik dan terus dirawat. Panjang jalan itu sedikitnya 23.000 km (lebih dari 14.000 mil). Jaringan jalan ini memudahkan komunikasi dan pergerakan masyarakat serta barang. Untuk melintasi jurang curam yang jumlahnya banyak di Pegunungan Andes, orang Inca membangun jembatan gantung yang mengesankan. Mereka membangun teras-teras di lereng gunung untuk meningkatkan produksi pangan.
Teotihuacan
Piramida Matahari di Teotihuacan, Meksiko
Kota kuno Teotihuacan terletak dekat Meksiko City di Dataran Tinggi Meksiko. Bangunan ini sangat mengesankan, baik dari ukuran Piramida Matahari (ketiga terbesar di dunia) dan bangunan “saudaranya” Piramida Bulan; maupun kualitas kedamaian dari orang asli yang tinggal di daerah itu. Teotihuacan sangat unik dalam hal lukisan dindingnya. Lukisan yang ditemukan di sana tidak memiliki tema kekerasan seperti yang ada pada bangunan bersejarah lainnya; mereka menggambarkan sebuah masyarakat yang tampaknya lebih tertarik pada perbintangan dan simbol-simbol kerohanian pada waktu itu.
Piramida Bulan
Kota itu tampaknya digunakan sebagai pusat yang tumbuh dengan baik berabad-abad. Akan tetapi, ia tidak pernah memperoleh kembali kejayaan seperti dahulu kala setelah keruntuhannya yang tiba-tiba. Tak seorang pun tahu siapa yang membangun Teotihuacan. Nama-nama yang digunakan hari ini adalah nama orang Aztek yang telah menemukan bangunan tersebut setelah ditinggalkan. Orang Aztek membayangkan bahwa tempat itu dibangun oleh raksasa-raksasa.
Pulau Paskah
Beberapa patung batu besar, atau moai, di Pulau Paskah
Di Samudra Pasifik Selatan, 3.600 km (2.237 mil) dari benua Amerika Selatan terdapat Pulau Paskah. Di atas “titik kecil” di tengah samudra ini terdapat 887 buah patung batu besar atau moai yang dipahat dari abu gunung berapi yang mengeras dan kasar yang ada di sekitar pulau ini. Moai terbesar tingginya lebih dari 70 kaki dan beratnya lebih dari 150 ton (300.000 pon). Tempat galian itu tampaknya pernah ditinggalkan secara tiba-tiba, dengan patung-patung setengah dipahat berceceran di atas batu karang. Sayang sekali tidak ada catatan tertulis yang bisa menceritakan tentang tanah terpencil itu. Akan tetapi, patung-patung raksasa tersebut memberikan inspirasi akan gambaran kerohanian mereka yang asli.
Stonehenge
Stonehenge di Inggris Selatan
Stonehenge terletak di atas tanah datar hijau terbuka di Dataran Salisbury, dua mil sebelah barat Kota Amesbury, Wilshire, di Inggris Selatan. Ia merupakan serangkaian lingkaran konsentris dan bentuk sepatu kuda dari batu-batu kuno yang sangat besar. Bentuk Stonehenge tidak bisa dijelaskan oleh dunia arsitektur saja. Dengan berat sampai dengan 45,4 tonne (50 ton), ia dianggap sebagai karya konstruksi yang besar dan mengesankan pada zamannya.
Sekumpulan tiang batu yang di luar, lengkap dengan sambungan batu bubungan yang disebut lintel, membentuk lingkaran utuh. Bagaimana orang yang membangun itu tahu cara membentuk lintel agar mereka bisa tetap rata dan tetap membentuk lingkaran dianggap sebagai arsitektur yang maju pada masa itu. Walaupun tidak jelas siapa yang membangun Stonehenge atau untuk tujuan apa, pernah ada dugaan bahwa itu merupakan kuil untuk penyembahan, tempat untuk mengamati perbintangan, pemakaman suci, pekerjaan makhluk luar angkasa, tempat pendaratan makhluk luar angkasa, sebuah alat hitung atau jam atau sebuah tempat pengamatan perbintangan di Zaman Batu, dsb.
Dibandingkan dengan beberapa pencapaian peradaban kuno, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini tampaknya masih kalah jauh. Saat ini, bumi dapat hancur karena bencana buatan manusia dan bencana alam yang mungkin disebabkan oleh perang nuklir, penyalahgunaan teknologi, polusi, dsb jika kita tetap membangun atmosfer negatif di planet kita, menentang alam, mencampuri sistem ekologi, dan menciptakan rintangan-rintangan di dalam masyarakat.
Jumlah orang di Bumi ini yang telah mengetahui manfaat kerohanian sangatlah besar. Sejalan dengan kedatangan Zaman Keemasan, kita mempunyai sebuah kesempatan untuk mengetahui masa depan seperti yang Guru gambarkan ketika Beliau mengatakan, “Jika seluruh manusia di dunia ini mau berlatih rohani, maka bumi kita akan menjadi sebuah planet yang berperadaban dan berperingkat tinggi, sama seperti planet lainnya. Pada saat itu, kita akan dapat menciptakan segalanya, kita akan puas dalam segi materi. Itu semua karena sisi kerohanian serta kebijaksanaan kita telah meningkat, dan kita dapat berbuat segala hal… Di dunia seperti itu, persentase penggunaan kebijaksanaan jauh lebih tinggi daripada dunia kita. Itulah perbedaan antara kita dengan mereka. Manusia terpandai di dunia ini baru menggunakan empat persen dari kepandaiannya saja. Dapatkah Anda bayangkan? Hanya empat persen saja! Oleh sebab itu, bumi ini masih jauh tertinggal." (Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Tokyo, Jepang, 11 Maret 1992, Asal dalam bahasa China)
Banyak orang meramalkan bahwa Bumi kita akan maju dengan sangat pesat di abad ini, dan banyak perubahan hebat akan terjadi dalam beberapa tahun ini. Sesungguhnya, banyak teknologi luar biasa yang siap dialihkan ke bumi asalkan kita mempunyai kunci kasih dan kebijaksanaan!
sumber:
http://kontaktuhan.org/news/news174/os_64.htm
Langganan:
Postingan (Atom)
